Catatan dari Isra Mi’raj Insan Mulia SAW (4)

4. Kesatuan Nabi-Nabi AS/SAW dan Agama Allah.

Kisah Isra Mi’raj dimulai dengan perjalanan dari Masjidil Haram, Makkah, tempat ibadah pertama dibangun Nabi Adam AS. bapak seluruh manusia, lalu didirikan lagi oleh Nabi Ibrahim & Putranya AS, bapak para Nabi, ke Masjidil Aqsha, masjid yang dibangun Nabi2 Bani Israel. Seperti dikisahkan di point 2, Nabi Muhammad SAW mampir ke tempat penting Nabi Musa, dan Isa AS.

Sesampainya di Masjidil Aqsha Nabi Muhammad SAW bertemu dengan seluruh para Nabi/Rasul AS, yang menurut salah salah sati riwayat berjumlah lebih dari 100 ribu Nabi. Di sana mereka saling bersalam, dilanjutkan dengan shalat bersama menghadap Tuhan yang sama, yaitu Allah SWT. Dikisahkan Nabi Muhammad SAW lah yang menjadi imam jamaah yang agung itu.

Kisah ini bisa dilanjutkan hingga mi’raj, menaiki tangga2 langit. Namun kisahnya tetap ada kesamaan, Nabi SAW kemudian bertemu dengan malaikat dan para Nabi AS di setiap tangga langit, saling salam dan saling puji, kemudian shalat berjamaah bersama dipimpin Nabi Muhammad SAW.

Kisah Isra-Mi’raj di atas begitu indah dan agung, juga menggambarkan betapa persaudaraan seluruh Nabi/Rasul. Mereka saling bersahabat, saling memuji, saling mendoakan, dan memiliki tujuan sama, mengibarkan Agama Allah, mengibarkan panji Tauhid.

Dalam banyak riwayat sikap Nabi Muhammad SAW dengan para Nabi memang sangat bersaudara, beliau selalu menyebut para Nabi itu sebagai “Saudaraku”. Misalnya dalam salah satu kisah sebelum Isra Miraj, ketika beliau habis “diusir” oleh kaum Thaif. Beliau bertemu dengan seorang budak Nasrani, yang membantu beliau. Ketika beliau menanyakan asal-usul orang itu, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Oh, kamu berasal dari tempat Saudaraku Yunus”, padahal orang itu tidak memberi tahu dan sedikit sekali orang tahu mengenai itu.

Berbagai riwayat juga menyebutkan “semua Nabi adalah bersudara”, dan dalam satu riwayat Nabi SAW menggambarkan bahwa ibarat bangunan semua Nabi seperti batu bata, dan beliau adalah batu bata yang terakhir.

Perlakuan yang baik terhadap umat terdahulu, juga diajarkan Al-Quran kepada kaum Ahli Kitab, kaum Yahudi dan Nasrani. Meski Islam menganggap mereka telah menyimpang dari ajaran yang asli, dan banyak mengkritik ajaran mereka, namun kita tetap diajarkan bersikap yang santun kepada mereka, berdialog dengan cara yang terbaik, dsb. Kecuali tentu saja, jika mereka bersikap memusuhi kita.

Jika dengan umat lain saja kita para Nabi SAW memberi contoh yang sangat indah, tentu apa lagi dengan sesama umat Islam. Tentu kita harus bersikap lebih baik lagi, karena umat Islam adalah umat yang satu, ibarat satu tubuh, dan semua muslim adalah bersaudara. Persaudaraan berdasarkan iman kepada Allah, sebagaimana persaudaraan seluruh Nabi dan Rasul.

Karenanya sikap ekslusif, yang hanya membanggakan kelompok dan menutup diri dengan saudara yang lain, meski berbeda pendapat, adalah sikap yang bertentangan dengan semangat ajaran Isra Miraj Insan Mulia SAW ini….

Wallahul muwafiq ilaa aqwamit thariq, wallahu a’lam…

Bersambung, insya Allah

One thought on “Catatan dari Isra Mi’raj Insan Mulia SAW (4)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *