Catatan dari Isra-Miraj Insan Mulia SAW (5)

5. Tentang Kendaraan

Demi bintang ketika terbenam,
kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru,
dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),
yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,
Yang mempunyai akal yang cerdas;
dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.

sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi,
maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah
atau lebih dekat (lagi).

Lalu dia menyampaikan kepada hambanya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya .
Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya
tentang apa yang telah dilihatnya?

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
(yaitu) di Sidratil Muntaha .
Di dekatnya ada surga tempat tinggal,
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar. (QS. 53:1-18)

Buku karya Hajjah Aminah Adil, berjudul Muhamad, the Messenger of Islam, merupakan biografi Nabi Tercinta AS yang cukup unik, karena titik beratnya kepada kehidupan spiritual Nabi SAW. Salah satunya diceritakan sangat detil kisah Isra Miraj ini, sehingga jika ditotal kisah Isra Miraj ini memenuhi sekitar 120 halaman dari 570 halaman buku ini, atau sekitar 20%-nya.

Dalam buku itu disebutkan bahwa dalam perjalanan Isra Miraj ini Nabi Muhammad SAW menggunakan beberapa kendaraan, yaitu : (1) Buraq, dalam perjalanan dari Makkah ke Palestine, (2) Miraj (semacam tangga), dari Palestine ke langit dunia, (3) Sayap malaikat, dari langit dunia ke langit ke tuju, (4) Sayap Jibril AS, dari langit ke-7 sampai Sidratul Muntaha (Pohon Lotus terjauh), dan (5) Raf-raf (semacam karpet) yang membawa Kekasih Allah SAW ini ke hadapan Allah, kisah ini diabadikan dalam surat An-Najm di atas.

Mungkin beberapa hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas.

Pertama, bahwa perjalanan menuju Allah (sabilillah) memerlukan kendaraan dan sarana. Bahkan mu’jizat Allah kepada para Nabi pun selalu menggunakan sarana, tidak ujug-ujug, begitu saja. Isra Miraj misalnya memerlukan pensucian, mengunjungi tempat2 Nabi terdahulu, menggunakan kendaraan, meniti dari satu tangga ke tangga yang lain, dsb. Untuk membelah laut Musa AS menggunakan tongkat dan mengetuknya ke tanah, berdasarkan perintah Allah. Ketika Nabi Musa AS ditanya mengenai kasus pembunuhan yang misteri, untuk mengungkapnya Nabi Musa AS memerintahkan (dengan perintah Allah) kepada umatnya untuk menyembelih sapi betina (al-baqarah), kemudian beliau menyabetkan dari bagian sapi itu kepada mayat yang terbunuh. Baru kemudian mayat itu dihidupkan oleh Allah dan menceritakan kejadian sebenarnya. Kisah ini menjadi nama dari surat terpanjang dalam Al-Quran, yaitu Al-Baqarah. Padahal kalau Allah berkenan bisa saja langsung menghidupkannya, namun Allah tetap memberi jalan, sarana, bahkan untuk suatu mujizatpun.

Apalagi, bagi kebanyakan orang dalam kehidupan nyata. Dalam mencapai tujuan baik material, maupun spiritual semua membutuhkan kendaraan, sarana, jalan. Setelah jalan dilalui, kendaraan digunakan barulah anugerah Allah akan terbuka, yang kadang dari tempat yang tidak kita sangka. Sering hal-hal kecil, yang dulu kita anggap sepele, menjadi sarana bagi anugerah yang besar. Hal sebaliknya juga bisa terjadi untuk bencana.

Kedua, bahwa jalan menuju Allah adalah memiliki banyak kendaraan, dan sarana, serta kadang melalui jalan panjang dan berliku. Karenanya, dalam perjalanan kepada Allah kita harus memperbanyak kendaraan dan sarana kepada kepadanya, berupa berbagai kerja keras, usaha dan amal saleh (mujahadah), seperti zikir, shalat, puasa, menyantuni orang miskin, dsb, serta bahu membahu dengan hati yang ikhlas kepada sesama pejalan di jalan-Nya.

Ketiga, bahwa perjalanan itu ada tahap-tahapannya. Ada jenjangnya. Setiap jenjang perjalanan itu harus kita jalani dengan sabar dan sungguh-sungguh, sebelum menuju jenjang berikutnya.

Wallahul muwafiq ilaa aqwamit thariq… Wallahu a’lam

Insya Allah, bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *