Catatan dari Isra Mi’raj Insan Mulia SAW (3)

3. Kesucian adalah dasar dari ibadah kepada Allah.

Dikisahkan dalam “Al-Anwar al-Bahiyya min Isra wal Miraj Khair al-Bariyya” karya Syaikh Muhamad Al-Alawi Al-Makki. Ketika itu Rasul SAW sedang di dalam Al-Hijr Baitulllah, berbaring istirahat bersama dua orang (Hamzah & Ja’far ra), Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil as datang kepadanya. Mereka membawa Nabi SAW ke telaga Zam-zam.

Jibril membelah dada Rasul dari tenggorokan hingga ke ujung perut, kemudian mengisinya dengan air dari Zamzam untuk mensucikan hati dan meluaskan dadanya. Dia mengambi hati dan membasuhnya tiga kali, menghilangkan semua yg salah. Setelah itu Jibril mengisi hikmah, keyakinan, hilm (kecerdasan, sabar, kelembutan & kebaikan), ilmu, kepastian dan kepasrahan ke dalam dadanya, kemudian menutupnya.

Tentunya hati Rasulullah SAW itu sudah suci, namun kesucian itu tidak terbatas. Sehingga ketika Allah SWT memanggilnya dalam malam Isra-Mi’raj, Allah memerintahkan Jibril untuk mensucikan lagi dada Makhluk terbaik itu. Tentunya juga, yang disucikan bukan hati dalam arti fisik semata, namun hati ruhani.

Ini memberi pelajaran penting bahwa dalam Islam segala macam ibadah, yang tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah, semua berlandaskan kepada kesucian. Dalam hadis disebutkan, Ath thuhuru syathrul iman, “Kesucian adalah bagian dari iman”.

Karenanya dalam fikih kita diajarkan (paling tidak disunahkan) untuk mensucikan diri ketika kita hendak beribadah. Shalat, dzikir, baca Quran, doa, dianjurkan untuk bersuci lebih dahulu. Hampir semua kitab fikih memulai dengan bab Thaharah (bersuci). Secara fisik bersuci adalah dengan berwudlu, tayamum, dsb. Di saat yang sama kita berusaha mensucikan hati kita dari segala niat-niat yang buruk. Kedua-duanya sama pentingnya, walau tentu penyucian hati itu lebih prinsipal. Namun tidak mungkin kita mensucikan hati tanpa melalui pensucian fisik.

Ketika seorang meninggal, menghadap Allah, kita sebagai muslim diwajibkan juga untuk mensucikan jasadnya sebelum dikuburkan.

Sekali lagi semua memberi pesan yang jelas, kesucian lahir dan bathin adalah dasar dari semua ibadah. Tidak bisa kita menghadap Allah tanpa didasari fisik dan, terutama, jiwa yang suci. Tentu saja, hanya ALlah Al-Qudus yang mampu mensucikan hati kita.

Semoga Allah Al-Qudus selalu mensucikan hati kita sehingga kita bisa diterima menghadap-Nya . Amien.

Wallahu a’lam,
Bersambung… Insya Allah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *