Catatan dari Isra’Miraj Insan Mulia SAW (6)

6. Tentang Petunjuk Jalan

Perjalanan Rasulullah SAW ke hadirat Allah SWT adalah perjalanan yang sangat panjang dan merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh manusia sepanjang masa. Perjalanan ini melalui berbagai rute, dan bertingkat-tingkat. Untuk melakukan perjalanan itu selain kendaraan, seperti pada point 5, Beliau juga mempunyai petunjuk jalan yang suci, yang dalam Al-Quran disebut sebagai Ruhul Qudus (ruh yang suci), yang kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. Ya, pembimbing itulah Malaikat Jibril AS.

Selain liku-liku perjalanan dimana beliau dituntun oleh Jibril AS di mana harus turun, apa yang dilakukan, di setiap stasiun perjalanan, beliau juga mendapat banyak sekali pengalaman yang yang luar biasa. Kepada Jibril AS-lah beliau menanyakan apa yang dialami oleh beliau, juga meminta nasihat. Sebagai contoh, apa yang dialami dalam salah satu perjalanan dari Makkah ke Masjidul Aqsha, beliau mengalami kejadian sbb:

Ketika sedang menaiki Buraq Beliau SAW melihat seorang setan dari jin yang mencoba untuk mendekati beliau dan memegang api. Ke mana pun Nabi SAW berpaling dia akan meihatnya. Jibril AS berkata, ” Maukah aku ajarkan kalimat yang jika engkau ucapkan, apinya akan hilang dan dia akan jatuh dan mati?”. Nabi SAW mengiyakan. Jibril berkata, ” katakan:

A’udzu biwajhillahil karim wa bi kalimatit- tammat,
allati laa yujawizuhunna barrun wa laa fajir,
min syarri ma yanzilu minas- sama,
wa min syarri maa ya’ruju fiiha,
wa min syarri maa dhara’a fil- ardh
wa min syarri maa yakhruju fiiha,
wa min fitani al-laili wan- nahar,
wa min tawariq al-laili wan- nahar,
ilaa thariqin yatruqu bi khairin Yaa rahman.

(Aku berlindung kepada Wajah Allah Yang Mulia dan Kalimat-Nya Yang Sempurna,
di mana kebaikan dan kejahatan tidak akan melampaunya,
dari kejahatan yang turun dari langit,
dan dari kejahatan yang naik kepadanya,
dan dari kejahatan yang diciptakan di bumi,
dan dari kejahatan yang keluar darinya,
dan dari fitnah siang dan malam,
dan dari pengunjung siang dan malam,
selamatkan pengunjung yang datang dengan kebaikan,
Ya Rahman..)

Juga selanjutnya, dalam perjalanan ini beliau melihat:

Kemudian Mereka melanjutkan perjalanan, di tengah perjalanan Rasulullah SAW melihat orang menebar benih sehari dan panen dalam sehari. Setiap selesai memanen, mereka tumbuh lagi seperti sebelumnya. Jibril menjelaskan : “Itulah Al-Mujahidun, amal mereka berlipat 700kali, dan apa yang mereka keluarkan berlipat ganda”.

Rasulullah SAW kemudian mencium angin sangat wangi. Jibril AS menjelaskanbahwa itu adalah bau dari perempuan (pelayan) yang menysir rambut anak fir’aun, dan ketika sisirnya jatuh dia mengatakan “Dengan nama Allah, hancurlah Fir’aun”… dst cerita dianiayanya pelayan dan keluarganya.

Kemudian dia melihat beberapa orang yang memotong kepala mereka sendiri, dan setiap kali kepala itu kembali semula dan dipotong lagi. “Itulah orang yang kepalanya terlalu berat (kepada bantal mereka) untuk bangun dan menjalankan shalat” (na’dzubillahi min dzalik..)

Kemudian Beliau SAW melihat seorang yang menggunakan cawat, mereka memakan buah berduri, zaqqum (buah yang tumbuh di neraka), bara api putih dan kerikil neraka. “Mereka adalah orang yang tidak melaksanakan zakat/sadaqah”

Kemudian Beliau SAW melihat orang yang tersedia di depannya daging yang baik/segar dan daging busuk, namun dia memilih daging busuk. “Mereka adalah orang yang memiliki istri/suami yang baik dan halal di rumah, tetapi pergi bermalam ke perempuan/laki2 jelek dan haram”.

Kemudian Beliau SAW melihat orang yang berenang di sungai darah dan di mulutnya penuh dengan batu dan menelannya. “Mereka adalah orang yang memakan riba”.

Dan seterusnya…

Terlihat sekali betapa pentingnya pembimbing dalam setiap perjalanan. Bahkan sekedar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang baru pun, kita tetap memerlukan petunjuk, apakah dengan bertanya, minta di antar, dsb, apalagi perjalanan perjalanan menuju Allah SWT, yang merupakan perjalanan yang panjang dan berliku.

Bertanyalah kepada Ahli Zikir, jika engkau tidak mengetahui“, begitu perintah Allah SWT dalam Al-Quran. Kita tidak perlu ragu, malah semestinya harus, untuk memiliki pembimbing, guru, rujukan, tempat bertanya, dalam perjalanan menuju Allah SWT. Guru itu itu bisa saja kita menyebutnya kyai, ustadz, syaikh, mursyid, murabbi, apa pun…. Yang jelas, janganlah kita merasa bisa berjalan sendiri, sedangkan untuk mendapatkan gelar master, Phd yang bersifat dunia pun kita memiliki supervisor, pembimbing.

Wallahul muwafiq ilaa aqwamit thariq, Wallahu a’lam….

Insya Allah bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *