Category Archives: Akhlaq

Membangun Jembatan Kebersamaan

Pengantar

Salah satu kelemahan umat Islam, adalah sulitnya untuk bersatu. Antara Suni-Syiah, Sufi-Salafi, Modernis-tradisional, dan lain sebagainya. Ada banyak sekali penyebab umat Islam untuk sulit untuk bersatu, mulai dari yang “substansial” hingga masalah simple saja. Intinya, umat Islam mudah sekali pecah, sulit untuk kembali bersatu. Ini menjadi kelemahan yang sering dimanfaatkan oleh pihak lain dalam rangka melemahkan umat Islam. Karenanya upaya membangun kebersamaan adalah menjadi salah satu agenda penting umat Islam, terutama di Indonesia . Menyatukan paham umat Islam, dalam arti alirannya, adalah gagasan yang tidak masuk akal. Tetapi gagasan untuk menyatukan kekuatan antara kelompok-kelompok dalam Islam adalah hal yang masih mungkin dicapai, walau tidak mudah. Untuk kasus Indonesia , NU-Muhamadiyah sebagai faksi terbesar umat Islam di Indonesia adalah contoh yang baik hubungan antar aliran, meski mungkin masih bisa ditingkatkan lagi. Continue reading Membangun Jembatan Kebersamaan

Puasa Bicara

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam. (HR Bukhari-Muslim).

Shoum (puasa) itu artinya “imsak”, yaitu menahan. Lalu secara fikih berarti menahan dari makan, minum dan hal-hal lain yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Puasa dalam makna ini, meski tetap berat secara fisik, namun kebanyakan kita, bahkan anak-anak kecil pun, mampu menjalaninya penuh selama sebulan.

Namun tentunya, puasa bukan sekedar itu. Karena kemudian Nabiyullah Muhammad SAW, mengingatkan kita, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus” (HR Ibnu Majjah).  Ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekedar tidak makan dan minum belaka. Dia memiliki fungsi pensucian diri dan hati. Dan banyak hal yang menjadikan puasa ini menjadi kurang bermakna kecuali rutinitas belaka. Continue reading Puasa Bicara

Belajar Rendah Hati

Ada banyak kisah tentang kerendah hatian Rasulullah SAW. Di antaranya tentang kisah seorang tua musyrik yang membenci Nabi SAW. Suatu ketika dia dibantu oleh seorang lebih muda menurunkan barang-barangnya dengan baik hati dan sangat sopan. Orang tua itu bercerita tentang bagaimana bencinya dia dengan Nabi Muhammad SAW, mengenai jelek akhlaqnya, jeleknya ajarannya dsb. Orang (lebih) muda tersebut tenang dan tersenyum. Tiada kebencian di wajahnya. Orang tua itu kagum sekali dengan orang muda tersebut, dan bertanya, “Siapakah Anda?” “Saya Muhammad”, jawab orang Muda itu dengan tenang. “Muhammad?”, orang tua itu kaget dan terpana. Orang yang baik hati itu ternyata adalah orang yang dicelanya…. Akhirnya dia masuk Islam. Continue reading Belajar Rendah Hati