Etika/Adab Bumi

Adab Bumi

Kondisi terkini dari planet kita adalah sebuah rumah dengan penuh ketidakseimbangan, pencemaran dan polusi. Equilibrium planet bumi telah benar-benar rusak. Konflik bersenjata dan peperangan meningkat di seluruh penjuru dunia. Kondisi perekonomian meningkat bukan pada perbaikan tapi keruntuhan ekonomi di tengah-tengah kendali korporasi kapitalis yang semakin kaya. Dan kita ikut melanjutkan mengeksploitasi bumi yang memperparah kerusakan lingkungan, sampai di titik di mana sulit sekali untuk dapat diperbaiki. Manusia modern, yang menurut janji-janji modernitasnya menjadi penjaga bumi, justru menjadi predator mematikan, merusak planet, menyedot sumber daya alam dan merusak sahabat manusia, baik hewan maupun tanaman, dan manusia lainnya!

Allah berfirman dalam Al Quran:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Telah nyata kerusakan [fasad] di Daratan dan di Lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari [akibat] perbuatan mereka, [dan] agar mereka kembali [ke jalan yang benar].” [30:41]

Fasad, dalam bahasa Arab selain diartikan kerusakan seringpula didefinisikan sebagai korupsi yaitu “Sesuatu yang menanggalkan kondisi keseimbangan.”1 Dengan lain perkataan, korupsi atau kerusakan terjadi ketika sesuatu menjadi reruntuhan, terkontaminasi, tercemar, terpolusi, dan jauh dari kata seimbang. Lawan katanya adalah salah/islah: yang berarti to memperbaiki, membetulkan, atau menjadikan benar. Dengan perkataan lain, membawa sesuatu kembali ke jalan yang benar, yaitu kepada keseimbangan atau equilibrium.

Dan sebagai konsekuensinya, dalam ajaran Islam, kita harus menjadi seorang yangmuslihun – orang yang berbuat islah, bukan mufsidun – orang yang berbuat fasad; dengan makna bahwa kita harus menjadi manusia yang dapat menjadikan sesuatu itu seimbang (seperti sediakala), bukan merusak bumi. Dan bagaimana kita, sebagai muslim, berarti menjadi penyembuh, bukan pembawa penyakit. Berikut ini adalah presep inti yang dapat membantu kita menjadi Muslim dalam makna tersebut, sebagaimana dituntun oleh Al Qur’an dan Sunnah sebagai Adab Bumi. Dan ini merupakan usulan Bumi Langit untuk menjadi adab kita semua:

  1. Allah tidak menyukai kerusakan: Alasan pertama dan terutama mengapa kita mesti menjadi manusia penyembuh karena kerusakan adalah sesuatu yang tidak disukai, terutama di depan Allah. Allah tidak ridho kepada kerusakan: وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِى ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ “Dan apabila ia berpaling [dari kamu], ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” [2:205]
  2. Menjaga bumi: Terma “menjaga bumi” adalah memaknai peran manusia yang mengemban amanah sebagai khalifah – “penjaga” atau “pemelihara” bumi. Al-Qur’an menyatakan: وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَڪُمۡ خَلَـٰٓٮِٕفَ ٱلۡأَرۡضِ “Sungguh, Dan Dialah yang menjadikan kamu pemelihara-pemelihara di bumi.” [6:165]. Ulama ahli Al-Quran klasik/tradisional menjelaskan makna khalifah sebagai (i) Satu generasi yang menggantikan generasi sebelumnya, dan (ii) satu kelompok utusan (delegasi) yang merealisasikan atau menerapkan Hukum Tuhan dan mengejawantahkan keadilan – atau dengan istilah lain sebagai pemelihara.2 Dengan demikian, manusia harus terikat atau dekat dengan bumi, menjunjung tinggi tujuan suci penciptaan bumi, menetapkan keadilan di atas bumi, menjaganya senantiasa seimbang dan “tidak membuat kerusakan di muka bumi, sesudah [Allah] memperbaikinya.” [7:56]. Nabi Muhammad SAW dalam sebuah riwayat hadits mengingatkan kita semua: ‘Bumi diciptakan hijau, segar dan manis dan Allah menempatkan kamu [manusia] sebagai pemeliharanya, dan untuk [menguji] perbuatanmu [terhadap bumi].3
  3. Tidak hidup berlebihan: Tentang hal ini Al-Qur’an menyatakan: هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا “Dia [Allah] menciptakan bagimu semua, isi bumi [semuanya].” [2:29] وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا مِّنۡهُ‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ “Dia tundukkan bagimu apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi.” [45:13] Bumi dalam kerangka penciptaannya terikat dan berkaitan dengan semua manusia, bukan [khusus] untuk sebagian manusia saja. Padahal, jika kita menengok fakta yang ada, kita hidup di sebuah dunia, bumi, di mana kurang dari 20% dari bagian bumi (terutama mereka yang dikenal tinggal di “negara maju”) mengkonsumsi 80% sumber daya alam, demi untuk memenuhi gaya hidup konsumtif dan serakah. Kekhawatiran masyarakat di negara-negara Barat yang maju, bukanlah takut miskin, tetapi takut kegemukan! Kita telah menciptakan sebuah dunia yang mengkonsumsi sangat-sangat berlebihan, sangat fantastis dan pada sisi lainnya berupa ketidakadilan. Semestinya kita mengambil buah di bumi yang merupakan hak kita, hak tubuh kita, hak kehidupan kita, hak kesehatan, hak kebaikan, bukan memuaskan nafsu, rasa enak, manis, dan melalaikan hak orang lain dalam mengambil hak mereka, dan juga merusak hak bumi yang menjadi hak tanaman, hak hewan, hak udara, hak atmosfir, hak air, dll. Kita menelannya semua secara berlebiah dan tidak bertanggung jawab, bahkan terhadap diri sendiri. Allah mengigatkan: ڪُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan, karena Allah tidak suka [manusia] yang berlebihan.” [7:31]
  4. Menghargai keseimbangan: Dalam suatu ayat Al Quran, kita akan membaca ayat berikut: لرَّحۡمَـٰنُ (١) عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ (٢) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ (٣) عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ (٤) ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ بِحُسۡبَانٍ۬ (٥) وَٱلنَّجۡمُ وَٱلشَّجَرُ يَسۡجُدَانِ (٦) وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ ٱلۡمِيزَانَ (٧) أَلَّا تَطۡغَوۡاْ فِى ٱلۡمِيزَانِ (٨) وَأَقِيمُواْ ٱلۡوَزۡنَ بِٱلۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُواْ ٱلۡمِيزَانَ (٩) “Yang Maha Penyayang mengajarkan Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajari manusia berbahasa dan menjelaskan. Mentari dan rembulan menempati perhitungan, dan tanaman serta pepohonan tunduk patuh. Dia mengangkat langit dan menetapkan keseimbangan, di mana kamu [manusia] tidak boleh mengubah keseimbangan, tetapi mengamati keseimbangan itu dan tidak merusaknya.” [55:1-9] Ayat ini, demikian pula ayat-ayat yang sebelumnya telah dibahas, mengingatkan kita bahwa Allah telah menciptakan bumi dalam sebuah keseimbangan paripurna (equilibrium), di mana di dalamnya terdapat keseimbangan-keseimbangan kecil (mini equilibriums) yang tidak terhitung banyaknya . Kita bisa, tentu saja, menggunakan dan memanfaatkan bumi, sebagai sumber pangan, alat perdagangan dan, bahkan, mengaktualisasikan potensi-potensi yang tersimpan di dalam bumi. Akan tetapi semua hal ini memiliki syarat-syarat yang harus dipatuhi dan diikuti, yaitu tidak menabrakequilibrium, dan tidak pula melampaui batas keseimbangan.
  5. Toyib: Meningkatkan kualitas diri dan alam: Bagi orang-orang yang beriman, dunia atau alam adalah sebuah cermin: yang cantik pada esensinya. Ketika manusia berkaca lebih dalam maka dia akan menangkap [keindahan] wajah Allah. Al-Quran mengundang manusia untuk memikirkan, merenungi, berkontemplasi penciptaan dan menjadi manusia yang lebih baik karenanya, karena keindahan tersebut. Agar kita mengetahui dan mengapresiasi Pencipta melalui ciptaannya, kita menetapkan diri dalam kebaikan (toyib) pada semua hal: إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ () ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ “Dalam penciptaan langit dan bumi, dan dalam pergantian malam dan siang, ada tanda-tanda bagi mereka yang mau memahami. Yaitu dia yang senantiasa ingat Allah, di kala berdiri, duduk atau berbaring, merenungi penciptaan langit dan bumi. [3:191-2] Dengan demikian, jika langit penuh dengan bintang-bintang membawa suatu suasana dan rasa kagum, jika mawar yang mekar membawa rasa keindahan; jika daun berguguran dari pohon membawa pada keheningan yang khidmat akan rasa keagungan ilahi yang tak terbatas – maka akan membawa pada pemahaman betapa indah, luar biasa dan agung Allah yang menciptakan itu semua.
  6. Mensyukuri ciptaan Allah: Dalam sebuah ayat yang menggugah, Al-Qur’an mengabarkan: أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ ۥ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلطَّيۡرُ صَـٰٓفَّـٰتٍ۬‌ۖ كُلٌّ۬ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُ ۥ وَتَسۡبِيحَهُ ۥ‌ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ “Tidakkah kamu lihat bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi mengagungkan dan bersyukur kepada Allah? Dan burung-burung yang melebarkan sayapnya [dalam rangka bertasbih kepada Allah]? Setiap makhluq ciptaan Allah senantiasa berdoa dan mengagungkan Allah.” [24:41] Pada ayat lain: سَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيہِنَّ‌ۚ وَإِن مِّن شَىۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَـٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡ‌ۗ  “Tidak ada sesuatupun di alam ini yang tidak memuji Allah, meskipun kamu tidak memahami pujian-pujian mereka.” [17:44] Beberapa ayat mengajarkan kepada kita bahwa semua ciptaan Allah senantiasa memuji dan memuja Allag, memberi tahukan kepada kita bahwa setiap makhuq, bernyawa maupun tidak, meninggikan pujian dan kemuliaan-Nya. Para nabi (AS) dan banyak wali Allah (awliya) (RA) mampu untuk mendengar doa mereka, bahkan beberapa benda dapat diketahui bagaimana mereka mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah. Sepajang kehidupan Nabi SAW, pepohonan dan bebatuan berbicara kepada beliau SAW, dan memuji Allah ketika mereka dipetik atau dilewati dalam perjalanan.4 Beliau SAW bersabda di Gunung Uhud: hadha jabal yuhibbuna wa nuhibbuhu – ‘Gunung ini mencintai kita, dan kita mencintai gunung ini.’5
  7. Hidup di bumi dengan beradab dan penuh cinta kasih: Berkaitan dengan binatang dan tanaman Al-Qur’an mengabarkan kasih sayang mereka dengan: وَمَا مِن دَآبَّةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَـٰٓٮِٕرٍ۬ يَطِيرُ بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُم‌ۚ “Tiada binatang di atas bumi ini, juga semua yang terbang dengan kedua sayapnya, terkecuali umat sebagaimana kamu.”[6:38] Hal ini merupakan satu ayat yang mendorong kita untuk menelaah dan mengagumi dan kemudian menghormati semua makhluq hidup di atas permukaan bumi. Nabi SAW pernah ditanya: Wahai Rasul Allah, apakah berbuat baik terhadap binatang akan diberi ganjaran pahala? Rasulullah SAW menjawab: ‘Melayani dan berbuat baik terhadap makhluq Allah akan diberi ganjaran pahala.’6 Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah SAW memberitahu para sahabat yang pada saat itu sedang berjalan mengendarai onta mereka, dan sedang bercengkerama antara satu dengan yang lainnya: ‘Kendarai binatangmu dengan hati-hati dan kembalikan mereka [ke kandang] dengan aman dan baik-baik, jangan gunakan mereka bagaikan kursi duduk seperti ketika kamu bercengkerama dan bercakap-cakap dengan teman seperjalananmu atau ketika di pasar.’7 Beliau SAW juga bersabda: ‘Seorang perempuan suatu ketika dimasukkan ke dalam neraka karena mengikat kucing hingga kelaparan dan mati.’8 Dan ada sebuah hadits yang meriwayatkan di mana seorang laki-laki yang mengambil telur dari sarang burung, yang menjadikan induk burung tersebut bersedih. Melihat kejadian ini, Nabi SAW bersabda: ‘Kasihilah semua ibu. dan kembalikanlah telurnya.’9 Demikianlah kasih sayang di dalam Islam, mewajibkan kita untuk menunjukkan pada semua makhluq Allah di mana kita saling berbagi di bumi yang sama.

Inilah, dengan demikian, Islam mengajarkan kita semua untuk dekat dengan bumi dan berperan aktif dalam menyembuhkan bumi. Kemudian, dengan demikian ini merupakan pandangan dunia seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Dan ini adalah pengajaran mengenai jika kita ingin mendapatkan buahnya iman yang manis, jadilah buah yang manis itu bagi semua makhluq Allah, dan jadilah buah yang manis bagi kehidupan kita sendiri, menjadi contoh teladan yang mana akan diikuti oleh yang lain. Wa’Llahu wali al-tawfiq.

Catatan

  1. Al-Raghib al-Asfahani, Mufradat Alfaz al-Qur’an (Damascus: Dar al-Qalam, 2002), 636.
  2. Cf. al-Sam‘ani, Tafsir al-Qur’an (Riyadh: Dar al-Watn, 1997), 1:63-4; Ibn al-Jawzi,Zad al-Masir (Beirut: al-Maktab al-Islami, 2002), 52-3.
  3. Muslim, Sahih, no.2742.
  4. As per Ibn Hibban, Sahih, no.2110; al-Bazzar, Musnad, no.2413; Muslim,no.2277.
  5. Al-Bukhari, Sahih, no.4084; Muslim, Sahih, no.1393.
  6. Al-Bukhari, Sahih, no.3321; Muslim, Sahih, no.2245.
  7. Ahmad, Musnad, no.15629.
  8. Al-Bukhari, Sahih, no.3318; Muslim, Sahih, no.2241.
  9. Abu Dawud, Sunan, no.2675.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *