Konsep Mata Uang Menurut Umar bin Khathab

oleh : Muchamad Ridho Hidayat

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan kepada ciri-ciri kegiatan perdagangan yang dijalankan dalam berbagai masyarakat ( di masa lalu dan pada masa kini), perekonomian dapat dibedakan kepada: “perekonomian barter” dan “perekonomian uang”. Yang diartikan dengan “perekonomian barter” adalah suatu sistem kegiatan ekonomi masyarakat di mana kegiatan produksi dan perdagangan masih sangat sederhana, kegiatan tukar-menukar masih terbatas, dan jual beli dilakukan secara pertukaran barang dengan barang atau barter. Sedangkan yang dimaksud dengan“perekonomian uang” adalah perekonomian yang sudah menggunakan uang sebagai alat pertukaran dalam kegiatan perdagangan. Semua negara di dunia ini sudah dapat digolongkan sebagai “perekonomian uang.”
Kebanyakan perdagangan dilakukan dengan menggunakan uang. Semakin modern suatu negara, semakin penting peranan uang dalam menggalakkan kegiatan perdagangan
 

Beberapa kelemahan Perdagangan Barter 
Memerlukan “kehendak ganda yang selaras” (double coincidence of wants)
Penentuan Harga Sukar Dilakukan
Membatasi pilihan pembeli
Menyulitkan pembayaran tertunda (kredit)
Sukar menyimpan kekayaan
Uang yang terbuat dari emas dan perak telah mulai digunakan sejak abad ketujuh sebelum masehi dan sampai permulaan abad kesembilan belas, mata uang emas dan perak adalah uang yang paling penting dan paling banyak digunakan. Kemajuan ekonomi yang menimbulkan beberapa kesulitan-kesulitan dalam penggunaan uang emas dan perak.
Kesulitan-kesulitan tersebut menurut SadonoSukirno adalah:
1. Memerlukan tempat yang agak besar untuk menyimpan
2. Merupakan benda yang berat
3. Sukar untuk ditambah jumlahnya
Pada faktanya, saat ini kita hidup di “perekonomian uang”. Bahkan secara khusus, uang yang eksis pada peradaban hari ini adalah sistem uang kertas. Para ulama memiliki beragam pendapat soal keabsahan tentang hal ini. Sebagian mengharamkannya, tetapi belum memiliki solusi. Sebagian lagi membolehkannya karena alasan terpaksa/ darurat atau alasan lainnya.
 B. Rumusan Masalah
Menurut Dr. Jaribah Al-Haritsi, uang memiliki peranan besar dalam berbagaialiran ekonomi, di mana peranan tersebut terkembali kepada beberapa sebab sebagai berikut
 
1. Pelayanan besar yang diberikan oleh uang bagi kehidupan perekonomian; karena uang merupakan alat barter, tolak ukur nilai, sarana perlindungan kekayaan, dan alat pembayaran hutang dan pembayaran tunai.
2. Hubungan yang kuat antara uang dan berbagai kegiatan ekonomi yang laindan pengaruh yang saling berkaitan diantaranya. Sebab kekuatan uang bersandar pada kekuatan ekonomi, dan ekonomi yang kaut bersandar kepada uang yang kuat, dan sebaliknya.
3. Munculnya pengaruh uang dalam kehidupan perekonomian dengan bentuk yang sangat besar pada era sekarang yang menyaksikan krisis moneter yang tajam sejak permulaan abad ke-18 M. Dimana harga mengalami gejolak besar dari satu waktu ke waktu yang lain, sehingga kecepatan naiknya inflasi yang besar menjadi problem terbesar yang dihadapi ekonomi dunia saat sekarang. Ini berarti bahwa problem keuangan merupakan problem ekonomi terbesar yang dihadapi ekonomi kontemporer.
4. Uang merupakan salah satu faktor kekuasaan dan kemandirian ekonomi. Karena itu, uang merupakan salah satu bidikan terpenting dalam perangekonomi antar negara. Jika uang memiliki urgensi seperti itu dan indikasinya di dalam berbagai bidang kehidupan perekonomian, maka sudah semestinya jika perhatian Islamterhadap uang selaras dan sesuai dengan urgensi tersebut
 Untuk itu, penting bagikaum muslimin mengetahui dan memahami konsep uang dalam Islam. Makalah ini secara khusus akan mengkaji persoalan uang dalam pandangan Islam berdasarkan pendapat Umar bin Khathab RA.
  
II. PEMBAHASAN
A. Mata Uang dalam Ekonomi Makro
A.1. Definisi
Orang yang memiliki banyak uang biasanya diidentikan dengan orang kaya. Uang sering dianggap sebagai alat pengukur kekayaan. Akan tetapi para ekonom menggunakan istilah uang secara khusus. Uang tidak mengacu pada seluruh kekayaan, tapi hanya salahsatunya. Uang adalah persediaan aset yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi
Uang memiliki tiga tujuan (baca: fungsi), yaitu sebagai penyimpan nilai, unit hitung dan media pertukaran
Sedangkan bentuknya sangat beragam. Uang yang tidak memiliki nilai intrinsik disebut uang atas-unjuk atau fiat money (uang fiat). Uang fiat ditetapkan sebagai uang menurut dekrit pemerintah atau atas unjuk  pemerintah
Dimasa lalu, masyarakat telah menggunakan komoditas yang memiliki nilai intrinsik sebagai uang. Uang seperti ini disebut sebagai
commodity money (uang komoditas)
Contoh uang komoditas yang paling banyak digunakan adalah emas. Emas adalah bentuk uang komoditas karena bisa digunakan untuk  berbagai tujuan – seperti perhiasan, sebagaimana untuk transaksi
Uang diciptakan dalam perekonomian dengan tujuan untuk melancarkan kegiatan tukar menukar dan perdagangan. Maka uang selalu didefinisikan sebagai, “benda-benda yang disetujui oleh masyarakat sebagai alat perantaraan untuk mengadakan tukar menukar (perdagangan)
 
Syarat-syarat benda yang bisa menjadi uang
– Nilainya tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu
Mudah dibawa
– Mudah disimpan tanpa mengurangi nilainnya
Tahan lama
Jumlahnya terbatas (tidak berlebihan)
Bendanya mempunya mutu yang sama
Emas dan perak merupakan dua benda yang dapat memenuhi syarat-syaratini pada masa lalu. Oleh sebab itu, benda tersebut telah menjadi alat perantaraan dalam kegiatan perdagangan di berbagai negara di dunia sejak berabad-abad yanglalu
Kemajuan ekonomi dunia yang bertambah pesat sejak berlakunya Revolusi Industri di negara-negara maju menyebabkan perdagangan berkembangdengan sangat pesat sekali. Transaksi-transaksi yang dijalankan telah menjadi berkali lipat nilainya. Uang emas dan perak tidak dapat ditambah secepat seperti perkembangan perdagangan yang telah berlaku tersebut. Sebagai akibatnya bertambah lama bertambah banyak negara menggantikan uang emas dan perak dengan uang kertas sebagai alat untuk tukar menukar.
Pada masa ini uang kertas dan uang bank atau uang giral, yaitu uang yang diciptakan oleh bank-bank umum, adalah alat tukar menukar yang terutama di semua negara di dunia ini
Berdasarkan kepada kesulitan-kesulitan yang timbul oleh sistem barter, uang memilik fungsi dalam melancarkan kegiatan perdagangan.
Fungsi-fungsitersebut adalah:
Untuk melancarkan kegiatan tukar-menukar 
Untuk menjadi satuan nilai
Untuk ukuran bayaran yang ditunda
Sebagai alat penyimpan nilai Jenis uang yang sudah sejak lama digunakan dan yang selama kurang lebih dua puluh lima abad merupakan mata uang yang paling banyak digunakan oleh berbagai negara, adalah mata uang emas dan perak. Emas dan Perak mempunyaiciri-ciri yang diperlukan untuk menjadi uang yang baik 
Ciri khusus emas dan perak :
Banyak orang yang menyukai benda tersebut karena dapat digunakansebagai perhiasan
Emas maupun perak memiliki mutu yang sama
Kedua-duanya tidak mudah rusak, tetapi dapat dengan mudah dibagi-bagi apabila diperlukan
Jumlahnya sangat terbatas dan untuk memperolehnya perlu biaya dan usaha
Kedua barang itu sangat stabil nilainya karena mereka tidak berubah mutunya dalam jangka panjang dan tidak mengalami kerusakan Menurut Zallum, uang itu ada dua macam, yaitu uang logam dan uang kertas. Uang logam adalah uang yang terbuat dari barang tambang seperti emas, perak, tembaga, timah dan nikel. Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas sebagai pengganti (subtitusi) dari emas atau perak atau yang lainnya; yang dijamin seluruhnya atau sebagiannya; atau tidak dijamin sama sekali sehingga tidak diback up oleh emas dan perak 
Dunia pernah mengambil emas dan perak sebagai sistem mata uangnya hingga Perang Dunia I. Pada tahun 1971 penggunaan sistem mata uang emas dan perak ditiadakan sama sekali, berdasarkan keputusan Presiden AS, Nixon. Keputusan tersebut secara resmi dikeluarkan pada tanggal 15/07/1971 sekaligus membatalkan sistem yang disepakati pada Bretton Woods. (Bretton Wood adalah keputusan mengikat mata uang dunia dengan dollar dan emas dalam nilai tertentu. Uang dollar ketika itu diklaim memiliki back up emas sejumlah tertentu.)
 
Sistem Mata Uang
 
Sistem mata uang adalah kumpulan peraraturan yang menjadi asas adanya mata uang dan pengaturannya di suatu negara
Sistem mata uang logam adalah sistem yang tersusun dari satuan mata uang dasar yang terbuat dari logam, baik tunggal maupun dual (ganda)
Menurut Zallum, penggunaan sistem emas dan perak mengharuskan ditetapkannya satuan mata uang dasar dari emas dan perak dengan timbangan dan bentuk tertentu dan bersifat permanen
Sistem uang kertas adalah sistem yang menggunakan uang kertas sebagai alat tukarnya. Uang kertas merupakan gambaran dari kepercayaan yang beredar, dan dikeluarkan bagi orang. Juga mencerminkan hutang yang dijamin oleh negaraatau kekuasaan yang menerbitkan mata uang – jika uang tersebut merupakansubtitusi dari emas dan perak 
Jenis uang kertas ada tiga:
Pertama, uang kertas subtitusi dari emas atau perak. Uang ini dijamin penuh oleh emas dan perak 100%. (100% reservesystem). Kedua uang kertas semi-subtitusi. Uang ini dijamin dengan perbandingan tertentu dengan emas atau perak, tetapi tidak dijamin penuh.
Ketiga, uang kertasyang sama sekali tidak dijamin oleh emas atau perak, dan bukan pengganti keduanya. Ini uang kertas biasa yang disebut nuqud al-waraqiyah al-ilzamiyah
Uang jenis ketiga ini tidak memiliki nilai. Akan tetapi nilainya disandarkan padaundang-undang, yang memaksanya menjadi alat tukar 
 A.2. Sejarah Mata Uang Perjalanan Uang Emas dan Perak
Uang dalam berbagai bentuknya sebagai alat tukar perdagangan telah dikenal ribuan tahun yang lalu seperti dalam sejarah Mesir kuna sekitar 4000 SM – 2000 SM. Dalam bentuknya yang lebih standar uang emas dan perak diperkenalkan oleh Julius Caesar dari Romawi sekitar tahun 46 SM. Julius Caesar  pula yang memperkenalkan standar koversi dari uang emas ke uang perak dan
sebaliknya dengan perbandingan 1:12. Standar Julius Caesar ini berlaku di belahan dunia Eropa selama sekitar 1250 tahun yaitu sampai tahun 1204
Dibelahan dunia lainnya di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam, baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah seperti zakat dan diyat. Standarisasi uang Dinar dan Dirham mengikuti hadis Rasulullah SAW, “
Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah.”
 (HR Abu Dawud)
Pada zaman Umar bin Khathab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham
Pada akhir abad ke -13, Islam mulai merambah Eropa dan berdirinyakekhalifahan Usmaniyah dan tonggak sejarahnya tercapai pada tahun 1453 ketikaMuhammad Al-Fatih menaklukkan Konstatinopel, Dinar dan Dirham adalah mata uang paling luas digunakan.
Selain emas dan perak, baik di negeri Islam maupun non Islam juga dikenal uang logam yang dibuat dari tembaga atau perunggu. Dalam fikih Islam, uang emas dan perak dikenal dengan thaman haqiqi/ thaman khalqi (alat tukar hakiki), sedangkan uang dari tembaga atau perunggu dikenal sebagai fulus dan menjadi alat tukar kesepakatan (thaman istilahi)
 
Evolusi Fiat Money
 
Penerimaan masyarakat terhadap uang komoditas tidaklah mengejutkandan dapat dipahami. Masyarakat menerima emas sebagai uang karena emas memiliki nilai intrinsik. Namun, apa yang menyebabkan masyarakat menerima fiat money yang secara intrinsik tidak berguna? Evolusi dari uang komoditas menjadi fiat money diawali dengan kesulitandalam membawa bongkahan emas untuk melakukan perdagangan. Kepraktisan dan tuntutan kemajuan menginginkan bentuk emas yang standar. Dibuatlah percetakan koin emas yang memiliki standar tertentu sebagai mata uang. Selanjutnya pemerintah menerima (mengumpulkan) emas dari masyarakat untuk ditukar dengan sertifikat emas. Masyarakat percaya kepada pemerintah atas sertifikat (surat bukti) kepemilikan emas, dan menganggap nilainya setara dengan nilai emas yang tertera/tercantum dalam sertifikat tersebut. Sertifikat ini lebih mudah untuk dibawa dan digunakan. Sertifikat yang ditopang dengan emas ini akhirnya menjadi standar moneter yang berlaku pada suatu masyarakat
Pada akhir evolusi ini emas menjadi tidak relevan karena tidak seorang pun yang menebus sertifikat tersebut dengan emas. Tidak seorangpun yang peduli dengan keberadaan emas yang dijamin oleh sertifikat tersebut, karena sertifikat ini sudah beredar luas dimasyarakat dan sudah diterima sebagai mata uang
Inilah yang disebut konvensi sosial terhadap mata uang. Setiap orang menghargai uang karena mereka berharap orang lain juga akan menghargainya
Dalam politik, pemerintah memaksa masyarakat untuk menerima fiat money yang diterbitkan oleh bank sentral. Uang tersebut ditetapkan sebagai mata uang yang sah, dan menolaknya berarti pelanggaran pidana. Menurut catatan numismatik, kuitansi uang sudah dipakai di Cina oleh para saudagar di abad ke-3 atau ke-4 Masehi, yaitu sejak Ts’ai Lun menemukan kertas pada abad ke-1 Masehi. Kuitansi uang adalah tanda terima yang tertulis diatasnya nilai koin tertentu milik saudagar sebagai ganti pembayaran tunai. Inilahuang kertas yang dalam istilah Zallum uang yang memiliki jaminan. Di Cina,negara mengambil alih sistem kuitansi uang sejak tahun 910 M, dipelopori oleh Dinasti Tang, tetapi sistem ini akhirnya dibrangus oleh Kaisar Hung Wu dari Dinasti Ming pada tahun 1399, mengakhiri uang kertas Kwan.
Namun, ternyata jika kita melihat perjalanan uang kertas penuh dengan kegagalan. Uang kerta mengalami masa kelam selama tiga abad terakhir. Berikut ini beberapa contoh kegagalan tersebut:
1.Di Amerika pada tahun 1775, Congress Amerika mencetak uang kertas yang disebut Continental. Uang ini dicetak sebesar US$ 241 juta untuk membiayai perang, dan bertahan hanya sekitar 5 tahun, sampai tahun1780. Uang ini tidak memiliki back up atau jaminan, sehingga tidak  bernilai. Akhirnya uang ini hanya digunakan sebagai kertas penutup tembok (wall paper) dibarber shop, dan baju parade.
2.Di Perancis, kegagalan uang kertas terjadi 2 kali, yaitu tahun 1715 selepasterbunuhnya Louis XIV dan tahun 1789. Awalnya, seorang penjudi dariScotlandia bernama John Law menawarkan ide uang kertas kepada penguasa Perancis. Setelah disetujui, mereka membuat bank sentral yang disebut Banque Royale yang mengeluarkan bank-note sebesar 2,7 milyar Livres selama 2 tahun. Tidak lama setelah itu terjadi gelembung pasar (market bubble) yang menyebabkan mata uang tersebut collapse. Kemudian pada tahun 1789 Perancis mencoba mencetak uang kertas lagi yang diberi nama
 Assignat . Belajar dari kegagalan sebelumnya, uangkertas ini di-
back up dengan kolateral berupa tanah gereja yang sangat berharga. Kemudian, jumlah uang yang beredarpun dibatasi hanya sampai 400 juta Assignat. Namun, uang ini hanya berhasil bertahan sekitar tujuh tahun.
3.Kegagalan uang kertas juga terjadi di Jerman pasca berakhirnya Perang Dunia I. Karena tingginya tingkat inflasi dan tidak berharganya uang kertas, gaji pegawai dibayar dua kali sehari. Orang-orang di Jerman masih mendapatkan cerita dari kakek nenek mereka, bahwa untuk membeli roti orang perlu membawa kereta dorong; bukan untuk membawa roti tetapi membawa uangnya.
B. Mata Uang Menurut Umar bin Khathab
Perhatian Islam terhadap uang nampak di dalam penetapan kaidah-kaidah yang menjamin keselamatan interaksi keuangan; seperti Islam melarang cara apa pun yang berdampak mudharat terhadap uang. Penerbitan uang merupakan masalah yang dilindungi kaidah-kaidah umum syariat Islam. Sebab penerbitan uang dan penentuan jumlahnya merupakan hal-hal yang berkaitan dengan kemaslahatan umat, sedangkan bermain-main dalam penerbitan uang akan berdampak pada terjadinya mudharat besar bagi ekonomi umat dan kemaslahatannya. Diantara bentuk mudharat tersebut adalah hilangnya kepercayaan terhadap mata uang, terjadinya pemalsuan, pembengkakan jumlah uang dan turun nilainya (inflasi). Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu Fatawa, “Seyogianya pemerintah mencetak uang untuk mereka (rakyat) sebagai nilai pengganti dalam muamalah mereka.” Kondisi uang sejak masa pemerintahan Nabi Muhammad SAW hingga pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq RA tidak mengalami perubahan dikarenakan pendeknya masa khilafahnya, kesibukannya dalam memerangi kemurtadan, dan kokohnya pilar-pilar kekhilafahannya. Ketika masa Umar RA terjadi sebagian perbaikan dalam pengeluaran uang. Terdapat perbedaan pendapat tentang orang pertama yang mengeluarkan uang di dalam Islam. Riwayat yang paling masyhur menjelaskan bahwa Abdul Malik bin Marwan adalah orang pertama yang mencetak dirham di dalam Islam.
 
B.1. Atsar Umar tentang Uang
 
Riwayat yang menyebutkan bahwa Umar RA mencetak dirham pada masanyadinyatakan oleh Al-Maqrizi. Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa Umar RA mencetak dirham dengan ukiran Kisra dan dengan bentuk yang sama. Hanya saja dia menambahkan kata ‘
 Alhamdulillah’ dan  ‘ La ilaha illallah’. Riwayat ini dikuatkan oleh riwayat Al-Baihaqi tentang dirham bighal. Dalam riwayat lain, Umar menetapkan dirham Islam yang senilai dengan enam daniq. Diantara bukti yang menunjukkan pencetakan uang dirham oleh Umar RA adalah bukti material yang bisa dilihat secara nyata. Sebab terdapat uang Islamyang dicetak pada masa Umar Radhaiyallahu Anhu sekitar tahun 20 H. Sumber sejarah lain menyatakan, “Sesungguhnya dirham telah dicetak pada masa khilafahUmar RA oleh para gubernur, hanya saja dia menggunakan ukuran Bizantium Romawi. Peranan Umar RA dalam reformasi moneter tidak hanya sebatas pengeluaran uang. Beliau juga berupaya untuk melindungi uang, seperti melarang  perdagangan uang dan praktek-praktek ribawi. Umar RA melarang manusia bermuamalah dengan uang palsu. Umar juga melarang Abdullah bin Mas’ud untuk menjual sisa dirham yang buruk yang teradapat di baitul mal. Umar RA juga melakukan standarisasi uang untuk kesatuan sistem moneter, dengan mengumumkan sabda Nabi SAW: “Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, sedangkan takaran adalah takaran penduduk Madinah.”  Dalam riwayat lain, Umar RA berusaha memberantas riba dalam mata uang. Imam Malik berkata dalam Al-Muwaththa: “Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik, dari Abdullah bin Dinar, dari Abdullah Ibn Umar bahwa Umar bin Khathab mengatakan: jangan menjual emas untuk emas, kecuali sejenis dengan sejenis. Jangan melebihkan bagiannya atas bagian lain. Jangan menjual perak untuk perak, kecuali sejenis dengan sejenis. Jangan melebihkan bagiannya atas bagian lain. Jangan menjual sesuatu yang ada dengan sesuatu yang tidak ada. Jika seseorang memintamu menunggu pembayaran hingga dia berada dirumah, maka jangan tinggalkan dia. Aku khawatir rama’ terjadi padamu. Rama’ itu riba.”
 
Pendapat Dr. Jaribah Al-Haritsi
Dalam buku Fikih Ekonomi Umar bin Khathab, Jaribah Al-Haritsi mencantumkan riwayat yang menunjukkan bahwa uang adalah segala sesuatu yang dikenal dan dijadikan sebagai alat pembayaran dalam muamalah di antaramereka. Dimana Umar RA pernah mengatakan, “Aku ingin menjadikan dirham dari kulit unta.” Lalu dikatakan kepadanya, “Jika demikian, unta akan habis/punah”, maka dia menahan diri. ( Lihat, Al-Baladzuri, Futuh Al-Buldan). Menurut Jaribah Al-Haritsi, atsar “Aku ingin menjadikan dirham dari kulit unta.” menunjukan bahwa Ulil Amri dapat menetapkan uang dari materi apa saja dan dalam bentuk apapun selama tidak menyalahi hukum syariah. Jaribah mengutip sebuah riwayat yang mengatakan, “Sungguh telah kuatriwayat yang mengatakan bahwa Umar RA bertekad untuk menjadikan uang dari kulit karena banyaknya kecurangan dalam dirham. Hanya saja karenamengkhawatirkan punahnya unta, maka beliau membatalkan rencananya tersebut. Juga tidak diriwayatkan bahwa seseorang menyanggah Umar bin Khathab dengan alasan nilai penciptaan perak ketika beliau berkeinginan untuk menjadikan dirham dari kulit unta.” Setelah mengumpulkan banyak keterangan tentang riwayat-riwayat terkait pencetakan dirham pada masa Umar RA Dr. Jaribah Al-
Haritsi berkesimpulansebagai berikut:
a. Penerbitan uang pada masa Umar RA hanya terbatas pada dirham,sementara dinar tidak dicetak melainkna pada masa Khalifah Abdul Malik  bin Marwan. 
b. Pencetakan dirham tidak dengan ukiran ala Arab murni, namu dicetak dengan gaya ‘ajam.
c. Umar RA tidak mengumumkan dirham yang dicetaknya tersebut sebagai mata uang resmi dan meniadakan muamalah dengan dirham yang lain. Menurut Jaribah, kebutuhan pengeluaran uang pada masa Umar RA menjadi lebih besar dari pada sebelumnya dikarenakan luasnya wilayah negara khilafah, banyaknya harta yang mengalir ke negara khilafah dari daerah-daerah yang ditaklukkan, adanya pemalsuan dirham, dan lain-lain. Meskipun demikian, khilafah belum memiliki kemampuan untuk mengeluarkan mata uang yang independen bagi masyarakat pada waktu itu. Khilafah hanya mampu mengeluarkan sebagian dirham yang ditetapkan sesuai dengan syar’i. Apa yang ditetapkan di dalam fikih Islam tentang penerbitan uang oleh pemerintah dapat dicermati dengan jelas di dalam fikih ekonomi Umar RA. Perkataan Umar RA, “Aku berkeinginan untuk menjadikan dirham dari kulit unta” menurut Dr. Jaribah Al-Haritsi menunjukkan bahwa beliau berpendapat penerbitan uang merupakan otoritas pihak yang berwenang (ulil amri); karena beliau mengatakan hal itu dengan statusnya sebagai khalifah. Di akhir pembahasannya tentang Uang (Moneter), Dr. Jaribah menyimpulkan bahwa Umar tidak kagum terhadap dirham dari Persia, dan mencari bahan lain untuk dijadikan uang. Akan tetapi pembatalan niat Umar RA untuk menjadikan kulit unta sebagai uang adalah semata-mata khawatir atas stock  unta, sedangkan kebutuhan unta sangat mendesak (untuk keperluan lain). Dr.Jaribah juga menyimpulkan bahwa atsar Umar tersebut menunjukkan tentang keniscayaan uang kertas.
B.2. Analisis Terhadap Atsar Umar bin Khathab
Menurut Dr. Jaribah, secara global terdapat dua pendapat di antara fuqaha tentang hakikat uang. Kelompok pertama mengatakan bahwa uang adalah bentuk  penciptaan dan hanya terbatas pada dinar (emas) dan dirham (perak) yang dicetak sebagai mata uang. Kelompok ini diwakili oleh Al-Ghazali, Ibnu Qudamah, dan Al-Maqrizi.
Kelompok kedua mengatakan bahwa uang adalah masalahterminologi. Kelompok ini diwakili oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hazm. Untuk memahami perbedaan pendapat ini perlu kajian yang mendalam terhadap sistem moneter dan konsep uang dalam Islam. Atsar Umar ini, ditarik oleh Dr. Jaribah ke arah pendapat kelompok kedua. Menurut kelompok ini, benda apapun bisa menjadi uang dengan konvensi dari masyarakat. Umar bin Khathab RA memang pernah memiliki ide untuk menjadikan uang dari kulit unta sebagai nilai harga resmi. Namun dengan berbagai pertimbangan, ide itu dibatalkannya. Al-Baladzari dalam al Buldan wa Futuhuhawa Ahkamuha meriwayatkan: “Sesungguhnya Umar Ibn Khathab pernah berkata:Saat aku ingin menjadikan uang dari kulit unta, ada orang yang berkata: Kalau begitu unta akan punah. Maka aku batalkan keinginan tersebut.” Imam Malik  berkomentar dalam al Mudawwanah (Juz 3), “Apabila pasar telah menjadikan kulit sebagai mata uang, maka aku tidak senang kulit tersebut dijual dengan emasdan perak.” Menurut Sufyan Al-Jawi, dalam memahami atsar ini perlu diberi catatan Numismatik: yang dimaksud dengan uang dari kulit unta, yaitu lembaran komoditas kulit unta, bukan uang kuitansi atau bank-note, yang dalam istilah Umar Ibn Khathab RA adalah Rama’. Tidak mungkin Umar RA bermaksud menjadikan kulit unta sebagai Rama’ sedangkan beliau membencinya. Catatan ini penting diberikan karena sebagian pihak – sebagaimana pendapat Jaribah – mengira ide pemakaian kulit unta sebagai uang itu mirip Pada faktanya, yang terjadi saat ini bukanlah konvensi. Akan tetapi yang sebenarnya berlaku adalah pemaksaan terhadap mata uang kertas yang tidak memiliki nilai apapun.
Imam Malik dalam Al-Muwaththa berkata:
“Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik, dari Abdullah bin Dinar, dari Abdullah Ibn Umar  bahwa Umar bin Khathab mengatakan: jangan menjual emas untuk emas, kecuali sejenis dengan sejenis. Jangan melebihkan bagiannya atas bagian lain. Jangan menjual perak untuk perak, kecuali sejenis dengan sejenis. Jangan melebihkan bagiannya atas bagian lain. Jangan menjual sesuatu yang ada dengan sesuatu yang tidak ada. Jika seseorang memintamu menunggu pembayaran hingga dia berada dirumah, maka jangan tinggalkan dia. Aku khawatir rama’ terjadi padamu. Rama’ itu riba.”
dengan pemakaian selembar kertas sebagai mata uang bank-note
tersebut. Menurut Imam Malik, Rama’ adalah penundaan pembayaran seperti uang kertas atau bank note. Imam Malik mengatakan: “Rasulullah SAW melarang penjualan sebelum serah-terima barangnya”. Setelah membatalkan pemakaian kulit unta sebagai uang, pada tahun 20H., Khalifah Umar Ibn Khathab RA justru menerbitkan koin dirham Islam pertama, sesuai kadar yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Kadar dinar-dirham yang ditetapkan oleh Umar Ibn Khathab ini adalah dinar seberat 1 mitsqal: 20 qirat (4,25 gr) dan dirham seberat 7/10 mitsqal (2,975 gr). Rancang bangun koin dirham ini berdasarkan pola Persia ditambahkan huruf Arab gaya Kufi, dengan lafadz: Bismillah atau juga Bismillahi Rabbi pada tepi lingkaran. Inimenunjukkan pendapat Dr. Jaribah di atas kurang tepat. Bahkan terkait uang kertas secara khusus Zaid bin Tsabit RA pun membenci uang seperti ini. Imam Malik dalam Al Muwaththa meriwayatkan:
Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik, bahwa ia telah mendengar ada kuitansi-kuitansi uang yang diberikan pada orang-orang pada masa Marwan bin Hakam di pasar al-Jar. Orang-orang membeli dan menjual kuitansi tersebut sesama mereka sebelum barang diserah terimakan. Zaid  bin Tsabit RA, Seorang Sahabat Rasulullah SAW mendatangi Marwandan mengatakan, “Marwan! Apakah engkau membuat riba menjadi halal?” Dia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah. Apa itu?” Dia mengatakan, “Kuitansi-kuitansi dijual belikan orang sebelum serah-terima barang.” Marwan kemudian mengirim para pengawal untuk mengikuti mereka, dan mengambil kuitansi-kuitansi itu dari tangan orang-orang dan mengembalikannya kepada pemiliknya. Zaid bin Tsabit RA, secara khusus menyebut kuitansi itu sebagai riba. Padahal itu kuitansi uang yang belum ditebus koinnya
III. PENUTUP
Berpegang pada mata uang Dinar dan Dirham, bukan berarti tidak maju dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Sebelum dunia Barat menemukan apa yang disebut sebagai ‘cek’ atau ‘check’ atau ‘cheque’, umat Islam sudah menggunakan Sakk. Begitu juga sebelum Barat mengenal Letter of Credit, Dunia Islam sudah menggunakan
 Hawala dan Suftaja. Penggunaan uang Dinar dan Dirham juga tidak harus kembali ke zaman dahulu. Ketersediaan teknologi dapat memudahkan penggunaan Dinar dan Dirham secara praktis. Saat ini juga sudah tersedia sarana perdagangan berbasis Dinar, seperti e-dinar, dan lainnya. Muhaimin Iqbal mengutip Meera menyebutkan manfaat penggunaan Dinar dan Dirham:
1. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang stabil sepanjang zaman, tidak menimbulkan inflasi dari proses penciptaan uang atau money creation dan juga bebas dari proses penghancuran uang (money destruction).
2. Dinar dan Dirham adalah alat tukar yang sempurna karena nilai tukarnya terbawa (inherent ) oleh uang itu sendiri. Berbeda dengan munculnya legal tender yang merupakan pemaksaan politik untuk menetapkan suatu matauang agar diterima oleh masyarakat.
3. Penggunaan Dinar dan Dirham dapat mengiliminir penurunan ekonomi ataueconomic  downturn dan resesi.
4. Penggunaan Dinar dan Dirham dalam suatu negara akan mengeliminir risiko mata uang yang dihadapi oleh negara tersebut, apabila digunakanoleh beberapa negara dan dapat mendorong terjadinya blok perdaganganIslam.
5. Penggunaan Dinar dan Dirham akan membuat sistem moneter berjalan adil dan harmonis dengan sektor riil. Sektor riil akan tumbuh bersamaandengan perputaran uang Dinar dan Dirham.
6. Kedaulatan negara akan terjaga melalui kestabilan ekonomi yang tidak terganggu oleh krisis moneter.
7. Hanya uang emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang bisa menjalankan fungsi uang modern dengan sempurna. Fungsi alat tukar (medium of exchange), fungsi satuan pembukuan (unit of account ), dan fungsi penyimpan nilai (store of value) menurut Meera, hanya dapat dilakukanoleh uang emas dan perak.

Fiat money telah gagal dalam memerankan fungsi-fungsi tersebut karena beberapa alasan berikut:
a) Fiat money tidak bisa memerankan secara sempurna fungsi sebagaialat tukar yang adil karena nilainya yang beruba-ubah. Jumlah uangyang sama tidak bisa dipakai untuk menukar benda riil yang sama padawaktu yang berbeda. 
b)  Sebagai satuan pembukuan fiat money juga gagal karena nilainya yang tidak konsisten. Pembukuan yang mengandalkan  fiat money
akan melanggar prinsip dasar pembukuan, yaitu konsistensi.
c) Sebagai fungsi penyimpan nilai, fiat money jelas telah gagal karena tidak mampu mempertahankan nilai dirinya dalam waktu yang lama. Setelah menjelaskan pandangan para ahli tentang atsar Umar RA, menjadi jelas bahwa Umar bin Khathab adalah pelopor Dirham Islam. Para Sahabat Nabi pun komitmen dengan taqrir dari Nabi soal uang. Begitu juga mereka – semogaAllah merahmati mereka semua – tidak memisah-misahkan antara uang untuk ibadah dan untuk muamalah. Wallahua’lam.[]*
Muchamad Ridho Hidayat
DAFTAR PUSTAKA
Jaribah bin Ahmad Al Haritsi,Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab. Jakarta:Khalifa, 2006.
Abdul Qadim Zallum, Sistem Keuangan Negara Khilafah. Jakarta: HTI Press,2008.
Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Depok : Gramata Publishing,2010.
Sufyan Al Jawi, Kemilai Investasi Dinar Dirham : Muamalah Syar’i Tanpa Riba. Depok: Pustaka Adina, 2007. 
N. Gregory Mankiw, Macro economic (sixth edition) = Makro ekonomi (edisi keenam). Jakarta: Erlangga.
Muhaimin Iqbal, Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham. Jakarta: Spiritual Learning Center – Dinar Club
Sadono Sukirno, Makroekonomi: Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2008.

 

One thought on “Konsep Mata Uang Menurut Umar bin Khathab”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *