Syukur dan Sabar

Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda “Sungguh mengagumkan perkara seorang beriman. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang beriman. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.”

Dalam kehidupan, kita hanya dan akan selalu mengalami dua hal saja, 1) apa yang kita anggap “kebaikan, nikmat, kemudahan, kegembiraan”, dan 2) apa yang kita anggap sebagai “kesulitan, musibah,kesedihan, penderitaan”. Tidak ada yang lain. Kedua hal di atas, bisa menjadi hal yang bermanfaat atau keburukan bagi jiwa dan ruhani kita. Inilah yang membedakan sikap orang beriman dan tidak.

Kita bisa mensikapi nikmat/kemudahan/anugerah dengan rasa “syukur” atau dengan “kesombongan/ berbangga diri”. Begitu juga, kita bisa mensikapi kesulitan musibah dengan “sabar” atau dengan “putus asa, menyalahkan orang lain, pasif, dsb/”. Itulah yang membedakan orang beriman dan tidak. Syukur dan sabar adalah sikap beriman, sedang sombong dan putus asa adalah sikap orang tidak beriman. Syukur dan sabar adalah kebaikan, sedang sombong dan putus asa adalah keburukan.

Setiap kejadian memang sebenarnya memiliki manfaat bagi jiwa kita. Kemudahan/kelapangan untuk membawa harapan, optimisme, kebahagiaan, sedang kesulitan adalah untuk melatih kekuatan, keuletan dan kreatifitas. Semua hal di atas diperlukan, bagi jiwa kita.

Jadi, bukan peristiwa atau kejadian itu yang penting, namun bagaimana kita memaknai kejadian/peristiwa. Kita bisa memaknai setiap kejadian menjadi kebaikan, bisa juga memaknai kejadian dengan keburukan. Dan itu adalah pilihan kita….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *