Wacana dan Aksi

Dalam Aesop’s Fables yang terkenal, dikisahkan seorang pengembara bercerita berbusa-busa tentang hebatnya pengalamannya. Dia bercerita bahwa ia mampu mengalahkan semua peloncat jauh hingga 2 kali jauhnya dari yang lain. “Kalau tidak percaya, silakan datang ke Rhodes dan tanyai orang-orang di sana!”, katanya. Salah seorang dari pendengar yang jengkel & kritis berkata, “Tidak perlu ke Rhodes, untuk membuktikannya. Cukup engkau tunjukan kemampuanmu di sini, dan kami akan percaya”. Seperti semua kisah Aesop lain, selalu diakhiri dengan moral of story. “Perbuatan berbicara lebih keras dari perkataan”, kata Aesop.
Dalam Al-Quran juga dikritik keras orang-orang yang hanya bicara, omong doang, (OMDO). No Action Talk Only (NATO). Misalnya, “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. 61:2-3)

Apakah ini berarti pemikiran atau teori atau wacana itu tidak penting? Yang penting adalah kerja atau action saja? Jawabnya menurut saya: Tidak! Keduanya sama pentingnya. Baik wacana/pemikiran, maupun kerja. Keduanya sama pentingnya seperti pohon dan buahnya. Tidak ada buah tanpa pohon. Seperti juga kurang berarti pohon tanpa buah.

Pada era 90an, Dr. Kuntowijoyo dalam sebuah ceramah mengklasifikasi gerakan mahasiswa menjadi aktivisme dan intelektualisme. Aktivism mementingkan aksi, utamanya: demo. Sedang intelektualisme mementingkan pemikiran, mendiskusikan wacana. Dr. Kunto kemudian mengemukakan pentingnya sintesa bagi keduanya. Dalam bukunya yang penting “Paradigma Islam: Dari interpretasi untuk Aksi”, Dr. Kuntowijoyo juga menulis pentingnya keduanya: teori dan aksi. Beliau kemudian juga mencanangkan ilmu sosial profetik, yang memiliki misi humanisasi (amar ma’ruf), liberasi/emansipasi (nahi munkar) dan transedensi (tu’minuna billah).

Al-Quran tidak hanya mengajarkan kita untuk bekerja, namun juga untuk menggunakan akal, merenungi realitas sekitar, dan mempelajari sejarah jatuh bangunnya umat manusia. Yang karenanya kita bisa belajar dan merumuskan pemikiran untuk memecahkan permasalahan kita.

Sejarah peradaban dan jatuh bangunnya bangsa di dunia, menunjukkan bahwa perubahan tidak bisa hanya hanya dari pemikiran saja. Namun juga tidak bisa hanya dari aksi saja. Masa Reneisance, Revolusi Industri di barat, Revolusi Islam di Iran, misalnya. Tidaklah merupakan hasil kerja semata, namun juga buah dari pemikiran. Berbagai wacana pemikiran muncul begitu ramai mendahului aksi.

Wacana atau pemikiran dengan demikian memiliki fungsi strategis sebagai penyadaran, pencerahan dan konsep atau solusi bagi permasalahan. Namun semua hal-hal yang canggih dan besar itu, tidak bermakna apa2 jika tidak dilanjutkan dengan aksi. Sebaliknya aksi tanpa pemikiran, akan membuat kita kehilangan arah dan orientasi dalam bekerja. Seperti bekerja dalam gelap. Pada akhirnya kita tidak ke mana-mana.

Karenanya, janganlah kita hanya menganggap yang penting kerja dan merendahkan wacana atau pemikiran. Di sisi yang lain, janganlah kita hanya berwacana untuk kemudian kita jadikan arsip. Keduanya harus kita lakukan. Pemikiran hendaknya kita tindaklanjuti dengan kerja. Kerja kita dievaluasi dengan pemikiran. Hasil pemikiran lalu diperbaiki dengan kerja. Begitu seterusnya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah fondasi dari dari pemikiran dan kerja adalah Iman kita kepada Allah. Di mana pemikiran dan kerja adalah manifestasi dari iman.

Al-Quran dengan indah memberi petunjuk pentingnya, iman, amal, dan dakwah/ evaluasi/ seruan/ wacana, dalam surat terkenal Al-Ashr: “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal kebaikan, dan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”

Semoga Allah membimbing kita menuju jalan-Nya yang lebih lurus. Amien…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *